Jumat, 28 Desember 2012

Adab Meludah

Kita masih sering melihat air ludah berada di sembarang tempat. Ini menunjukkan bahwa masih banyak yang belum paham tentang adab dalam meludah. Sebagai agama yang sempurna, Islam telah memberikan tuntunan tentang masalah ini dengan tujuan menjaga kebersihan dan kesehatan.
Di antara adab yang perlu diperhatikan dalam masalah ini antara lain:
Pertama, tidak meludah ke depan ketika shalat. Pasalnya, saat shalat seseorang sedang bercakap-cakap dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Allah berada di antara orang yang shalat dan kiblat. (Subulus Salam I/150)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kamu sedang shalat, maka janganlah meludah ke arah depan, karena Allah berada di hadapanmu ketika kamu sedang shalat.”(Riwayat Muslim).
Kedua, tidak meludah ke kanan ketika shalat. Seseorang dilarang meludah ke kanan saat shalat karena di situ ada malaikat. Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian berdiri shalat, maka janganlah meludah ke arah depannya sebab ia sedang berhadapan dengan Allah selagi ia berada di tempat shalatnya, dan jangan ke sebelah kanannya karena di sana ada malaikat. Tetapi hendaklah ia meludah ke arah kiri atau di bawah kakinya, kemudian dikuburnya.”
Ketiga, tidak meludah di masjid. Pengertian masjid di sini meliputi bangunan dan halamannya. Menurut Imam Qurtubi, yang dimaksud masjid adalah tanah yang diwakafkan sebagai masjid (Tafsir Qurtubi I/494).
Ibnu al-Haj, seorang ulama bermazhab Maliki dalam kitabnya Al-Madkhol Li Ibnu al-Haj menjelaskan bahwa meludah di masjid termasuk shu’ul adab (adab yang buruk) (Al-Madkhol I/264).
Dalam sebuah riwayat disebutkan, suatu ketika Rasulullah melihat ludah pada dinding masjid, maka beliau mengambil batu kerikil dan menggosoknya (Riwayat Bukhari).
Keempat, jika terpaksa meludah di masjid hendaklah menggunakan ujung pakaiannya.
Jika seseorang dalam keadaan terpaksa harus meludah di masjid, ia harus menggunakan ujung pakaiannya. Dari Anas bin Malik, Rasulullah melihat dahak di dinding kiblat lalu menggosoknya dengan tangannya. Dan nampak kebencian dari beliau, atau kebenciannya terlihat karena hal itu. Beliau pun bersabda, “Jika salah seorang dari kalian berdiri shalat, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan Rabbnya, atau sesungguhnya Rabbnya berada antara dia dan arah kiblatnya, maka janganlah ia meludah ke arah kiblat. Tetapi hendaklah ia lakukan ke arah kiri atau di bawah kaki (kirinya).” Kemudian Rasulullah memegang tepi kainnya dan meludah di dalamnya, setelah itu beliau membalik posisi kainnya lalu berkata, atau beliau melakukan seperti ini. (Riwayat Bukhari).
Kelima, jika berkendaraan sebaiknya berhenti saat meludah. Bisa jadi ludah yang dikeluarkannya tertiup angin dan mengenai orang yang di belakangnya. Perbuatan ini dilarang karena termasuk menyakiti orang lain. Rasulullah bersabda, “Janganlah saling menyakiti.” (Riwayat Malik). Namun jika memang harus meludah, hendaklah menghentikan kendaraan dan meludah di tepi jalan.
Demikianlah beberapa adab meludah yang diajarkan Islam. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar